Cerita dewasa terbaru desahan di pantai yang sepi

Cerita dewasa terbaru desahan di pantai yang sepiby adminon.Cerita dewasa terbaru desahan di pantai yang sepiCerita dewasa terbaru desahan di pantai yang sepi – Herman mengetatkan jaket yg dikenakannya. Tiupan angin laut malam ini terasa sangat kencang. Dirasakannya hidungnya mulai basah oleh embun air laut yg terbawa angin. Gak bisa ngidupin api rokok nih, pikirnya. Tapi sambil berjalan, Herman mencari-cari sela di antara tiupan angin yg sedikit mereda agar dapat menyalakan […]

Cerita dewasa terbaru desahan di pantai yang sepi – Herman mengetatkan jaket yg dikenakannya. Tiupan angin laut malam ini terasa sangat kencang. Dirasakannya hidungnya mulai basah oleh embun air laut yg terbawa angin. Gak bisa ngidupin api rokok nih, pikirnya. Tapi sambil berjalan, Herman mencari-cari sela di antara tiupan angin yg sedikit mereda agar dapat menyalakan koreknya.

Cerita Sex Terbaru | Mungkin aku lebih baik menepi aja, gumamnya. Lalu Herman memperhatikan pondok-pondok di sepanjang garis pantai yg dilaluinya. Siapa tahu dia bisa menyalakan korek agar bisa menghisap rokoknya. Pantai sangat sepi pada malam ini. Kontras dengan suasana tadi sore pada saat ia baru datang. Pedagang acung ramai, pengunjung ramai dan berbagai aktivitas dilakukan orang di sepanjang pantai.

selfie bugil

selfie bugil

Angin laut masih berhembus dengan kencang. Tak ada sama sekali kesempatan untuk Herman dapat menyalakan korekapi-gasnya. Tapi lama kelamaan, kakinya terasa letih juga berjalan terus.

Tak ada tujuan kemana Herman mau berjalan malam ini. Ia hanya ingin menikmati suasana lengang dan membuang rasa suntuk di kepalanya. Hari ini ia sudah menganggur lebih dari dua bulan. Hampir tiga bulan malah, hitungnya. Herman dihadapkan pada pilihan untuk terus bertahan di kota ini atau harus pergi. Untuk terus bertahan di kota ini, ia harus bekerja. Ia harus membiayai hidupnya. Sementara uang yg dimilikinya hanya tinggal beberapa ratus ribu. Pusing aku, gumamnya sambil menghela nafas.

Sebuah pondok dengan deretan kursi panjang mengundang minatnya untuk duduk beristirahat. Dikeluarkannya kotak rokok dan korek api gas dari balik saku jaket. Sambil duduk, Herman membentangkan jaketnya untuk menghalangi hembusan angin. Sambil menghisap dalam-dalam, Herman melaygkan pandangan ke laut lepas. Terasa betisnya sedikit kram. Kakinya berlumuran pasir. Sandal jepitnya diletakkan di samping. Enak kalo kaki diluruskan gini, gumamnya sambil meluruskan kedua kakinya.

Sesaat di depan pondok tiada seorangpun melintas sampai tiba-tiba ia dikejutkan dengan sesosok orang berjalan terhuyung-huyung lalu terjatuh. Dibuangnya rokok. Cepat-cepat ia berdiri dan berlari ke arah orang yg jatuh tadi.
Oh perempuan, pikirnya. Herman langsung gendong dan bawa ke pondok tempat ia tadi duduk. Ia sedikit kesulitan berjalan di pasir sambil menggendong seperti ini.

Dengan pelan-pelan berjalan, Herman letakkan perempuan tadi di atas meja yg ada. Kaki perempuan tadi dibiarkan terjuntai ke lantai. Herman celingukan. Agak bigung bagaimana menyadarkan perempuan yg pingsan dalam keadaan seperti ini. Tak ada air, tak ada minyak angin. Tapi Herman tak putus asa. Digenggamnya tangan perempuan tadi pas di sudut telapak tangan antara jari jempol da jari telunjuk, ditekan-tekannya pelan. Seperti yg ia ketahui itu lokasi salah satu titik syaraf yg langsung menuju ke kepala. Mudah-mudahan bisa membangunkan perempuan ini, pikirnya.

Berhasil…! Perempuan itu mulai bergerak. Kakinya bergerak. Tangannya yg satu lagi juga bergerak. Matanya terbuka. Dan…

“Haaaaaaa… Siapa kamu?” teriaknya histeris sambil bangun untuk duduk.
“Kenapa aku di sini?” tanyanya lagi dengan suara melengking.

Perempuan itu memandang sekeliling dan berulang kali melihat ke arah tubuhnya sambil meraba-raba pakaiannya. Herman gelagapan dengan sikap perempuan itu yg tiba-tiba menjerit. Herman mundur karena kaget. Wajahnya sedikit pucat. Wah, nanti dikirain orang aku memperkosa perempuan ini, pikirnya. Tapi Herman langsung menguasai diri.

“Sabar, mbak. Sabar…” katanya mencoba menenangkan perempuan itu.
“Mbak tadi berjalan di situ lalu tiba-tiba jatuh. Kebetulan tadi saya duduk-duduk di sini. Saya lihat mbak jatuh, saya langsung tolong. Saya angkat, saya bawa ke sini” jelasnya kemudian.
“Tenang, mbak. Saya gak apa-apain kog. Saya yg menolong mbak. Saya yg sadarkan mbak. Tadi mbak pingsan” kata Herman kemudian.

Sesaat perempuan itu diam. Setelah meraba-raba tubuhnnya dan melihat ke sekeliling lagi, ia mulai berusaha tenang.

“Lama saya tadi pingsan?” tanyanya.
“Gak lama. Saya pijit telapak tangan mbak supaya sadar” terang Herman.
“Hooooohhh… “perempuan itu menghela nafas panjang.

Dikibaskannya kedua tangannya membersihkan pasir di telapak tangannya lalu ia merapikan rambut. Sambil duduk perempuan itu mencoba meregangkan otot bahunya. Tubuhnnya digerakkan ke kanan dan ke kiri.

“Makasih ya mas udah nolong saya” katanya pelan sambil menatap Herman.
“Tadi saya benar-benar lagi pusing. Mumet. Banyak masalah” lanjutnya sambil menunduk. Ia masih duduk di atas meja.
“Mas orang sini? Nama mas siapa?” tanyanya kemudian.

Terlihat ia mulai merasa canggung dengan sikapnya tadi yg sempat membentak dan berteiak-teriak ke Herman.

“Sama-sama, mbak. Saya bukan orang sini. Kebetulan aja tadi lagi nyante di sini. Saya juga lagi suntuk banget.

Makanya ke sini buang suntuk” jawab Herman.

“Nama saya Herman” kata Herman sambil mengulurkan tangan hendak menyalam perempuan itu.
“Saya Eva” perempuan itu membalas uluran tangan Herman. Keduanya berjabat tangan dengan erat.
“Mbak tinggal dimana? Bisa pulang nih?” tanya Herman sedikit cemas.
“Aku bisa pulang. Tapi aku males mau pulang” jawabnya pelan.
“Rumahku lumayan jauh dari sini. Ke sini tadi sebenarnya cuma sebentar. Sekedar jalan-jalan di pantai sambil buang suntuk. Gak taunya malah pingsan. Hehehehehe… “jawabnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Herman ikut tertawa melihat sikap Eva yg tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Eva beranjak turun dari meja. Lalu berjalan ke arah depan pondok.

“Makasih ya, mas” katanya lagi. Eva menoleh ke belakang sambil tersenyum. Herman membalas senyum itu sambil mendekatinya. Ikut berjalan ke depan pondok.
“Sama-sama, mbak. Heran aja tadi. Kog mbak jalannya terhuyung-huyung gitu. Eh tau-taunya jatuh” kata Herman sambil melirik ke arah Eva.

Dirapatkannya jaketnya. Dilihatnya Eva hanya mengenakan celana kulot panjang, atasan berenda dari leher ke dada yg bertangan-pendek tapi lebar.

“Pakai ini, mbak. Biar gak dingin” kata Herman sambil membuka jaketnya dan memasangkan ke bahu Eva.
“Kamu baik sekali. Makasih” kata Eva tersenyum sambil melirik Herman yg salah tingkah.
“Kebetulan liat, mbak. Kebetulan liat mbak jatuh, saya tolong. Kebetulan liat mbak kedinginan, saya kasih jaket” Herman tersenyum lebar. Ia merasa tersanjung dengan kata-kata terima-kasih yg diucapkan Eva berulang-ulang.

Lalu Herman mengajak Eva berjalan ke arah bibir pantai. Setelah mendapatkan tempat yg nyaman di pasir tepi pantai itu, Herman mempersilahkan Eva duduk bersama-sama.

Eva adalah seorang wanita bersuamikan laki-laki asing. Suaminya sering berlaku kasar terhadap Eva. Mulai dari memukul sampai menendang. Sebulan lalu Eva sempat masuk rumah sakit karena kepalanya dipukul sampai berdarah.
Suaminya tdk menghendaki anak. Sementara Eva menghendaki kehadiran seorang anak di rumahnya. Naluri wanita, kata Eva. Pasti menghendaki kehadiran anak. Cekcok di antara Eva dan suaminya selalu berakhir dengan pemukulan.

Sambil menangis, Eva menceritakan apa yg ia alami selama ini. Duduk dengan kaki yg ditekuk ke dada, dan tangan yg dilipat di lutut, membuatnya sesekali menyembunyikan kepala di balik tangan dan kakinya. Herman beberapa kali menghembuskan nafas mendengar cerita Eva. Lalu menggeleng-gelengkan kepala. Ia duduk juga sambil memeluk kakinya yg ditekuk. Ingin ia memotong pembicaraan Eva,ia ingin bertanya tapi tampaknya hanya tertahan di ujung lidah. Herman diam membiarkan Eva mengeluarkan semua uneg-uneg dari dalam hatinya.

Sesekali tangan Herman mengelus punggung Eva yg terguncang-guncang karena tangisannya tak berhenti. Lalu sambil duduk lebih dekat, Herman mendekap tubuh Eva, menjatuhkan tubuh Eva ke dalam pelukannya. Tubuh Eva tersandar ke kaki Herman yg tertekuk. Kepala Eva tersandar lemah. Seakan tak sanggup diangkatnya kepala lagi.

Suara ombak laut yg mulai meninggi menghilangkan suara tangisan kesedihan Eva. Eva terdiam sesaat. Hanya sesekali kepalanya terangguk-angguk karena tangis. Herman peluk tubuh Eva erat-erat. Tangannya melingkar penuh ke pinggang dan lengan Eva. Membuat Eva merasa nyaman dan tenang. Setelah Eva tenang, Herman elus rambut Eva. Kepalanya masih tersandar di kaki Herman.

“Kamu kerja dimana, Her?” tiba-tiba Eva bertanya memecah keheningan.
“Aku masih menganggur. Udah dua bulanan berhenti kerja” jawab Herman malu-malu

Eva diam. Dia sekarang lebih tenang. Kepalanya yg tersandar diangkatnya. Ditatapnya wajah Herman.

“Aku tidur di tempat kamu malam ini ya?” tanya Eva. Herman gelagapan menjawab.
“Tapi kamarku kecil dan sederhana. Bersih sih. Beda dengan kamar kamu mungkin” jawab Herman ragu-ragu.
“Kalo kamu tidur di tempatku, ya gak apa-apa…” lanjut Herman. Eva tersenyum.
“Kamu ke sini pake apa?” tanya Herman.
“Mobil. Parkir di depan gapura” jawab Eva.
“Terus gimana? Kamu ikut aku atau bawa mobil kamu?” Herman sedikit bingung.
“Aku bawa mobilku ke tempat kamu. Ayo… Aku ikuti kamu dari belakang” lanjut Eva.

Herman berdiri duluan, kedua tangannya terulur menarik Eva berdiri. Lalu dipeluknya Eva. Tubuh Eva yg hanya sedada Herman tenggelam dalam pelukan. Eva peluk pinggang Herman erat-erat. Herman dekap bahu Eva. Tercium aroma wangi shampoo yg dipakai Eva mengundang gairah Herman merapatkan pelukannya.

Sambil mencium kepala Eva, tangannya berpindah ke bulatan pantat Eva yg padat. Dengan kulot kain seperti yg Eva pakai, remasan tangan Herman di bulatan pantat Eva terasa lebih dalam. Hanya kain kulot dan kain celana dalam Eva yg menghalangi tangan Farix menyentuh kulit lembut pantatnya. Herman angkat wajah Eva, diciumnya pelan bibir Eva. Eva diam, pasrah. Bibirnya terbuka menanti. Herman menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Eva. Mencari lidah Eva sambil mengemut bibir lembutnya.

Pipi Eva yg tertahan tangan Herman membuat Eva harus membalas gesekan lidah Herman di dalam mulutnya. Eva julurkan lidahnya. Membalas gesekan lidah Herman. Bibirnya mengemut dan menghisap bibir Herman. Terasa manisnya tembakau di bibir Herman tapi bagi Eva yg mulai terjalar birahi, naik tinggi dari selangkangannya langsung ke ubun-ubun, bibir Herman menawarkan cinta dan sayang untuknya. Sambil memeluk erat pinggang Herman, untuk mengimbangi lumatan bibir Herman, Eva menjinjitkan kakinya.

Herman lepaskan pegangan tangannya di pipi Eva, menelusuri punggung dan kembali mengelus kedua bongkahan bulatan padat pantat Eva yg tertutup celana panjang kulot. Elusan tangannya menyentuh garis celana dalam Eva yg ketat menjepit pantat bulat Eva. Garis celana dalam itu ditarik Herman dan tangannya dimasukkan ke dalam celana dalam Eva yg terbungkus kulot sambil meremas. cerita sex

“Ooooohhh… Hermannnn…” Eva mendesah menahan kenikmatan yg tercurah secepat itu.

Aliran dan dorongan birahi di sekitar selangkangan mengejutkan pinggulnya. Pantatnya bergerak-gerak memutar mengimbangi remasan tangan Herman di bongkahan pantatnya. Otot di belahan bulatan pantat berdenyut-denyut merespon remasan tangan Herman. Herman terus meremas semakin ke dalam belahan pantat Eva.

Mengarah ke selangkangan, naik ke atas. Eva menunduk mengangkangkan kakinya, menarik Herman ikut menunduk seiring ciuman mereka yg semakin mesra. Tiba-tiba Herman menghentikan aktivitas di bibir dan pantat Eva. Dipandanginya wajah Eva. Dikecup pelan kedua mata Eva.

“Ayo kita pulang?” ajaknya sambil menggandeng tangan Eva.

Dengan tersenyum Eva mengikuti langkah Herman. Sambil berjalan berdampingan dilambung-lambungkannya tangan mereka yg berpegangan. Kebetulan tempat parker motor dan mobil berada di areal yg sama. Setelah Fairz menjalankan motornya, Eva mengemudikan mobilnya mengikuti dari belakang. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Tapi jalan masih ramai.

Sekitar 30-an menit mereka beriringan, Herman mengarahkan motornya memasuki sebuah lorong. Setelah memarkirkan motornya, Herman menunggu Eva yg sedang memarkirkan mobilnya. Begitu Eva datang mendekatinya, Herman kembali mencium bibir indah Eva. Berdua berjalan dengan mesra, Herman memeluk pinggang Eva mengajak memasuki sebuah kamar.

Kamar sederhana yg tertata rapi. Dinding dicat warna kuning cerah. Ada tempat tidur ukuran queen size yg dilapisi sprei warna hijau lumut dengan corak dedaunan. Kamar mandi di dekat wastafel. Meja dan kursi serta perlengkapan hiburan elektronik seadanya, cukup membuat Eva berdecak kagum. Pandangannya berputar seakan tiada celah yg ingin dikomentarinya.

“Rapi juga untuk ukuran kamar cowok” kata Eva sambil tersenyum.

Tangannya terkembang lebar hendak memeluk Herman. Hatinya gembira. Ternyata laki-laki yg sedang bersamanya malam ini adalah laki-laki yg menyukai kerapian dan kebersihan. Artinya dia benar-benar orang baik, pikir Eva.

Sambil berjalan mendekati Eva yg masih berdiri di dekat pintu, Herman segera menutup pintu. Disambutnya tangan Eva yg terkembang dengan rengkuhan hangat di pinggul bulat Eva. Pinggul yg padat, bulat dengan perut ramping. Walau Eva mengenakan celana kulot berwarna krem, pinggulnya bulatnya membayng jelas dengan bentuk yg sempurna. Bulatan buah dadanya terbentuk indah menghiasi atasan yg dikenakannya. Renda dari leher ke dada menambah fokus mereka yg memandang tubuhnya untuk menikmati bulatan buah dadanya yg tertutup bra.

Sambil memeluk Eva, Herman menundukkan kepala mencari bibir Eva. Tangan Eva yg melingkar di lehernya membuat Herman harus mengalah menyesuaikan tinggi tubuh mereka. Kembali tangan Herman menelusuri garis celana dalam yg tercetak di pantat Eva yg terutup celana kulot yg dikenakannya.

“Ooooohhh… Ooooooouuggghhh…” Eva melepaskan ciuman agar bebas mendesah.

Sungguh aliran kenikmatan itu datang begitu cepat. Ia tak dapat menolak dorongan untuk membalas remasan tangan Herman di kedua belahan pantatnya. Tangan langsung berpindah ke belakang tubuh Herman. Meremas pantat Herman dan berpindah ke selangkangan Herman. Dengan pelan, dibukanya ikat pinggang, kancing dan retsleiting celana kain yg Herman kenakan. Setelah jatuh ke lantai, Herman menggeser kakinya untuk meloloskan dari celana panjang kain yg dikenakannya.

Terlihat daging keras yg berdiri di selangkangan Herman. Tak ada bulu di sekitar selangkangan itu. Bersih. Yg terlihat hanya batang kejantanan dengan urat-urat yg melingkar menghiasi. Kepalanya yg bulat berwarna kemerahan mengkilat. Sejenak Eva menatap dengan takjub. Digenggam erat dengan kedua tangannya. Sambil menggenggam, Eva menggesek-gesekkan jempolnya di kepala batang kejantanan yg keras itu.

“Panjang banget…” Eva tak sempat meneruskan kata-katanya.

Tangan Herman telah masuk menelusuri sela belahan pantat Eva yg berlapiskan celana kulot yg masih dikenakannya. Herman mengangkat garis celana dalam Eva dan dari belakang kedua tangannya menyelusup menggesek-gesek belahannya. Semakin lama semakin mengarah ke atas selangkangan. Eva merapatkan pahanya menjepit-jepitkan tangan Herman yg meremas di selangkangannya. Ujung jari-jari kedua tangan Herman begitu aktif menelisik ke bagian dalam selangkangannya.

“Ooooooooooooooooohhhh…” Eva mendesah sambil menengadahkan kepalanya.

Tubuhnya ditekukkan ke belakang meresapi kenikmatan yg tinggi di sekitar selangkangannya. Satu kakinya terangkat mengapit kaki Herman. Matanya meredup menatap. Menanti gelombang yg lebih besar yg akan datang menerpa dirinya.

“Oooohhh… Hermaaannnn…” Eva mendesah sambil meremas batang kejantanan Herman yg digenggamnya.

Lalu tangan Herman menelusup ke balik baju yg Eva kenakan. Diangkatnya baju itu ke atas. Kedua tangan Eva ikut terangkat. Sambil memegang baju Eva yg sudah ia lepaskan, Herman tersenyum memandang tubuh setengah telanjang di depannya. Refleks Eva menyilangkan kedua tangan di dadanya. Bra warna krem dengan cup yg membulat terlihat tak cukup memuat. Buah dada itu terjepit dan melebar ke samping cup bra. Belahannya indah. Dada yg putih bersih dengan bulatan buah dada yg membelah sempurna. Dilemparkannya baju Eva ke tempat tidur. Diturunkannya kedua tangan Eva. Kini matanya kembali menikmati pemandangan indah buah dada Eva yg bulat sempurna.

“Gede… Bagus banget… Suka aku…” kata Herman.

Lalu Herman menundukkan kepala, mencium bibir Eva. Sementara tangannya merambat ke belakang tubuh Eva, mencari pengait bra lalu melepaskannya. Bra krem ukuran 36B itu dilemparkannya ke atas tempat tidur juga. Sambil mencium bibir Eva, tangan Herman meneruskan pekerjaannya ke celana panjang kulot yg dikenakan Eva. Tangannya bergegas membuka tali pengikat celana di pinggang Eva. Sesaat Eva melepaskan pegangan tangannya di batang kejantanan Herman agar Herman dapat lebih leluasa membuka ikatan celananya. Sambil membantu Herman membuka, Eva menggoyangkan pinggulnya membuka dan melepaskan celana kulotnya.

Sambil meloloskan celana itu dari pinggang Eva, Herman jongkok mengigigit-gigit gundukan di selangkangan Eva.

“Oooooooohhhhh Hermannnn…” Eva meremas rambut Herman sambil mendesah panjang.

Pantatnya dimajukan, kepala Herman ditekan lebih dalam. Herman julurkan lidahnya menelusuri belahan selangkangan yg tembem itu lalu menarik celana dalam yg masih menutupinya.

Sejenak Herman diam memanjakan matanya menikmati belahan tembem yg sempurna membentuk huruf V dan berakhir di ujung dalam selangkangan Eva. Selangkangan tembem tanpa bulu yg tumbuh di sekitar belahannya.

“Hmmmmm… Tembem. Gak ada bulu lagi. Favorit aku bangeeet…” kata Herman sambil tersenyum ke atas ke arah Eva.

Hati Eva begitu berbunga-bunga mengetahui Herman mengagumi organ vitalnya. Herman berdiri menggandeng tangan Eva, mengajaknya ke tempat tidur. Di pinggir tempat tidur, Eva membaringkan tubuh telanjangnya. Kedua kakinya ditekuk terkangkang. Lalu Herman berbaring di antara kedua kaki Eva. Satu kaki Eva diletakkan di punggungnya dan satunya lagi ditahan dengan tangannya. Diraihnya tangan Eva untuk menggenggam batang kejantanannya. Pantatnya digeser lebih dekat ke tangan Eva.

Lalu wajahnya mendekat ke selangkangan yg bersih tanpa bulu itu. Perlahan-lahan lidah Herman menelusuri sela paha putih Eva. Dijilat-jilat pelan. Naik-turun di sekitar liapatan sela paha itu. Sungguh kulit putih yg halus lembut. Kulit yg terawat sempurna. Eva menggelinjang menikmati rasa geli yg merangsang pantatnya terangkat. Tangannya mengocok-ngocok batang kejantanan Herman yg keras itu.

“Oooooohhhh… Ooooohhhhhhh” Eva mendesah perlahan. Sejenak ia berhenti mengocok , tangannya hanya menggenggam erat batang kejantanan Herman.

Lalu lidah Herman menjilati gundukan di selangkangan itu. Lidahnya naik turun menjilat belahannya. Tercium aroma liang kewanitaanya yg sangat merangsang Herman untuk memasukkan lidahnya ke dalam belahan gundukan itu. Lidah Herman mulai menggesek-gesek bibir belahan selangkangan Eva. Rangsangan yg begitu kuat, mendorong belahan liang kewanitaanya Eva membuka.

Bibir belahan liang kewanitaan Eva terkulai menyamping membuka liangnya. Seakan mengundang Herman memasukkan lidahnya ke dalam. Herman menggesek-gesekkan lidahnya ke dalam belahan liang kenikmatan yg indah itu. Sengaja ia tekan-tekankan ujung lidahnya. Eva sangat beraksi tiap Herman menggesek dan menekan lidahnya. Otot pantatnya dikedut-kedutkan. Kedua tangannya terus-menerus meremas rambut Herman. Kakinya yg dipunggung Herman ditekan-tekankan menjepit tubuh Herman ke bawah.

“Oooooooooohhhhh… Enak , sayaaaaang…” Eva menjerit. Ia berulang kali mendesah setengah menjerit seperti itu.

Setiap Eva mendesah, tangannya terhenti mengocok batang kejantanan Herman.

Lalu Eva menekan kepala Herman lebih dalam ke selangkangannya. Dengan melenguh panjang, Eva menjepitkan otot pantatnya, seperti mengangkat pantat. Lidah Herman menyentuh aliran cairan kental yg mengalir keluar dari dalam belahannya. Dijilat-jilatnya cairan kental itu. Ditelan lalu lidahnya kembali menjilat sambil menggesek-gesek semakin ke dalam belahan liang keanitaan Eva.

“Oooooooohhhh… Oooooohhhhhhh… Sayaaaang…” Eva melepaskan gairahnya sambil menekukkan tubuh.

Kepalanya ikut tertekuk ke belakang. Lenguhannya panjang. Tangannya meremas kuat sprei tempat tidur.

“Sayang… Ayo, sayang… Masukin” Eva menarik bahu Herman. Menyuruhnya untuk bangun.

Herman bangun dari posisinya yg tiduran. Kedua kaki Eva dikangkangkannya. Diletakkan di pahanya. Sambil sedikit berjinjit, dengan berjongkok Herman mengarahkan batang kejantanannya ke dalam belahan liang kewanitaan Eva. Tapi ia tdk langsung memasukkan. Dipegangnya batang kejantanannya itu, digesek-gesekkan ke bibir belahannya. Digesek-gesekkan lagi ke bagian atas belahan itu, ditekan-tekannya di daging kecil yg menyembul keluar dari sela bagian atas belahan liang kewanitaan Eva.

“Ooooooohhhhh… Oooooooohhhhhhhh…” Eva kembali menjerit.

Kakinya bergerak seakan-akan hendak menjepit. Lalu kedua tangan Eva menarik tubuh Herman mendekat, diraihnya batang kejantanan Herman, digesek-gesekkan lagi di belahan liang keanitaanya. Lalu pelan-pelan dimasukkannya sambil menarik pantat Herman agar menekan.

Herman merundukkan badan, menekan pinggulnya mendorong batang kejantanannya masuk ke dalam belahan liang kewanitaan Eva. Dengan berjinjit sambil merundukkan badan begitu, Herman tak menindih tubuh Eva. Kaki Eva juga tak terlalu terasa capek karena diakangkangkan. Tapi yg terutama, Herman dapat memasukkan batang kejantanannya dengan lebih dalam ke liang kewnitaan Eva. Masuk lurus ke dalam.

Dengan batang kejantanannya yg panjangnya dua genggaman tangan Eva, Herman dapat memberi kenikmatan yg sangat besar. Kepala batang kejantanannya dapat menggesek dan menekan ujung rahim Eva. Suatu kenikmatan yg sungguh luar biasa bagi seorang wanita dalam bersenggama.

Pelan-pelan Herman memaju-mundurkan pinggulnya. Otot pantatnya kontraksi kencang tiap ia mengocok liang kewanitaan Eva. Herman tetap bertumpu pada tangannya. Dengan begitu ia memberi ruang yg luas bagi Eva untuk menikmati percintaan mereka. Tiba-tiba Herman berhenti. Ia bergerak mengambil bantal satu lagi. Tanpa melepaskan batang kejantanannya yg menancap di dalam liang kewanitaan Eva, Herman mengangkat sedikit tubuh Eva, diselipkannya bantal tadi ke belakang kepalanya. Eva sekarang bersandar sambil memperhatikan batang kejantanan Herman keluar-masuk liang kewanitaanya.

“Oooooohhhh… Ooooohhhh… Ooooohhhh…” mata Eva mendelik menikmati gesekan batang kejantanan Herman yg mengocok liang kewanitaanya.

Terasa sekali kepala batang kejantanan itu masuk menembus jauh ke dalam liang kewanitaanya sampai ke ujung. Sambil mendesah, kedua tangannya mencengkeram erat tangan Herman. Sensasi yg sangat luar biasa menyaksikan batang kejantanan yg panjang dan besar tanpa bulu milik Herman mengocok-ngocok liang kewanitaanya yg sempit. Wajah Herman menegang. Irama gayungan pantatnya cepat. Ia sengaja menampar-namparkan sela pahanya ke sela paha Eva. Bunyi sela paha mereka yg bertabrakan mengundang sensasi yg besar bagi mereka.

“Ooooooohhhh… Enak banget… Enak bangeeeet…” Eva mendesah.

Matanya terpejam. Kepalanya menengadah. Ia benar-benar tak dapat menahan aliran kenikmatan yg terdorong keluar dari hasil percintaan mereka. Sambil memegang tangan Herman erat-erat, dikedut-kedutkannya otot selangkangan meremas batang kejantanan Herman seiring dengan mengalirnya cairan kental dari dalam sela belahan liang kewanitaanya. Cairan yg kental itu keluar membasahi dan melicinkan batang kejantanan Herman. Di pangkal batang kejantanan Herman terlumuri cairan kental keputihan. Semakin cepat Herman kocokkan batang kejantanannya, semakin banyak cairan kental keputihan itu keluar. Membasahi selangkangannya dan menetes ke tempat tidur.

“Oooohhhh… Enak banget, Hermaannn…” Eva terus mendesah menikmati area sekitar selangkangannya yg berdenyut-denyut.

Melihat itu, Herman terus mengocok dengan cepat. Tanpa merasa lelah, Herman yg mengubah posisinya, bertumpu pada lutut di tempat tidur, melanjutkan kocokan batang kejantanannya. Sambil membungkuk, lidahnya menjilat puting buah dada Eva yg memerah. Buah dada yg mengeras itu seakan-akan ingin ditelan habis ke dalam mulutnya. Lidahnya menggesek-gesek putting buah dada itu sambil giginya menggigit-gigit kecil. Lubang di puting buah dada Eva sengaja digesek-geseknya dengan gigi sambil menghisap kuat-kuat.

“Aaaaaaahhhhhh… Hermannnn… Aaaaaaahhhh…” Eva tdk dapat menahan aliran kenikmatan itu terdorong lagi keluar.
“Oooooohhhh… Enak banget, sayaaaaang…” Eva menarik tubuh Herman mendekap dirinya.

Sambil menindih tubuh Eva, Herman semakin mempercepat kocokan batang kejantanannya. Bibirnya naik ke atas mencari bibir Eva. Kedua tangan Eva mendekap erat tubuhnnya. Kedua kaki Eva juga mengapit menekan gerakan pantat Herman lebih ke dalam.

“Ooooohhhh… Ooooohhhhh…” Herman sekarang mulai merasakan dorongan yg kuat dari pangkal batang kejantanannya.

Aliran kenikmatan itu mendorong keluar dengan cepat. Kepala batang kejantanannya mulai berdenyut-denyut.

“Ooooooohhhhh… Aku mau keluar, sayaaaang…” Herman mendesah berulang-ulang sambil mengangkat tubuhnya.

Lalu dengan bertumpu pada tangan, sedkit mengangkat pantat agar kocokan batang kejantanannya lebih lurus masuk ke dalam, Herman mulai membiarkan aliran kenikmatan itu menyembur ke dalam liang keanitaan Eva.

“Oooohhhh… Ayo sayang… Bareng, sayang…” desah Herman lagi.

Lalu dijatuhkannya tubuhnya ke atas tubuh Eva.

“Oooooooohhhhhhh… Enak bangeeeeeeet… Enak banget, sayaaang…” Herman melenguh lemas.

Ditekankan pantatnya dalam-dalam agar batang kejantanannya dapat menyemburkan semua cairan kenikmatan hasil percintaan mereka. Batang kejantananya berdenyut-denyut. Otot-otot pantatnya kontraksi mengikuti Eva yg mengeraskan jepitan kedua kakinya. Bersamaan dengan itu, Eva menjerit merespon semburan cairan kental di dalam liang keanitaannya.

“Ooooooohhhhh… Sayaaaaaang…” dipeluknya tubuh Herman erat-erat.

Dielus-elusnya punggung laki-laki yg baru dikenal tapi sayang dicintainya itu. Liang kewanitaan Eva berdenyut meremas batang kejantanan Herman, menguras cairan kenikmatan Herman tertumpah di dalam.

“Oooooohhhh… Hermanz… Aku cinta kamu…” bisiknya sambil mengelus-elus punggung Herman.
“Aku cinta kamu juga, sayang” Herman mencium lembut bibir Eva.

Sejenak mereka terdiam menikmati denyutan di selangkangan masing-masing. Basah dan terasa lelah.

“Besok kamu kerja, sayang?” tanya Herman tiba-tiba.
“Hmmmm… Gak kerja aja deh ya..? Aku tidur di sini malam ini” jawab Eva.

Sambil mengelus-elus punggung Herman, Eva mencium pipi Herman yg tergolek di samping kepalanya.

“Aku minta ijin kerja besok, sayang. Aku mau temani kamu. Eh kamu dong yg mesti temani aku” Eva tertawa mengingat bahwa Herman masih belum mendapatkan pekerjaan baru.
“Besok aku tanya ke teman-teman ya. Siapa tahu ada yg punya lowongan untuk kamu” kata Eva lagi.

Dipeluknya erat tubuh laki-laki yg terbaring di atas tubuhnya.

Berdua mereka beriringan masuk kamar mandi melanjutkan kobaran api birahi yg masih membakar selangkangan masing-masing. Mereka begitu bersemangat menguras sisa-sisa cairan kenikmatan dari dalam tubuh di kamar mandi. Hingga akhirnya mereka tertidur pulas malam itu. Keesokan harinya Herman melayani dan memanjakan Eva bak seorang istri yg lama terpisah. Istri yg hilang dan akhirnya ditemukan kembali. Sebuah suasana yg sama sekali telah hilang dari kehidupan Eva sehari-hari.

Eva dan Herman meneruskan kisah cinta mereka. Bersama-sama mereka saling mengisi hari. Herman mendapatkan pekerjaan baru dari lamaran yg dikirimnya. Eva ikut gembira mengetahui Herman mulai bekerja kembali. Tiap hari libur kerja, mereka menghabiskan waktu berdua. Hingga akhirnya Eva memutuskan untuk berpisah dengan suaminya yg temperamen itu dan memilih meneruskan hidup bersama Herman. Selanjutnya mereka berdua merencanakan sebuah hubungan yg lebih serius.

Author: 

Related Posts