Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 50

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 50by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 50Pendekar Naga Mas – Part 50 Habis berkata dia pun segera beranjak pergi. “Kongcu,” ujar Leng Bang kemudian sambil tersenyum, “setelah mengalami serbuan yang berakibat fatal, pihak biara Siau-lim pasti sangat membenci orang-orang Jit-seng-kau, dengan dasar musuh bersama, seluruh partai besar pasti akan mendukung ayahmu menjadi pemimpin dunia persilatan.” Cau-ji ikut tertawa. “Ayahku sudah lama […]

multixnxx-young pregnant sluts -0 multixnxx-young pregnant sluts -2 multixnxx-young pregnant sluts -6Pendekar Naga Mas – Part 50

Habis berkata dia pun segera beranjak pergi.
“Kongcu,” ujar Leng Bang kemudian sambil tersenyum, “setelah mengalami serbuan yang berakibat fatal, pihak biara Siau-lim pasti sangat membenci orang-orang Jit-seng-kau, dengan dasar musuh bersama, seluruh partai besar pasti akan mendukung ayahmu menjadi pemimpin dunia persilatan.”

Cau-ji ikut tertawa.
“Ayahku sudah lama hidup mengasingkan diri, aku pribadi berharap dalam dua-tiga hari mendatang sudah bisa melenyapkan Su Kiau-kiau dari muka bumi, sehingga tak perlu merepotkan ayahku lagi!”
“Hahaha, ternyata Kongcu sangat berbakti kepada orang tua, sungguh mengagumkan.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari arah biara berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu, kedua orang itu sadar, pasti sudah terjadi sesuatu yang gawat, serentak mereka bangkit.
Tampak It-ci Taysu berlari masuk ke dalam ruangan sambil berseru, “Sudah pasti pihak Jitseng-
kau melancarkan serangan lagi, kalian berdua..
“Hahaha, bagus sekali!” sela Cau-ji sambil mengenakan kembali topengnya, “akan kusuruh mereka bisa datang tak bisa pergi, ayo kita ke sana!”

Baru saja mereka tiba di lapangan depan biara, terlihat ada lima puluhan padri Siau-lim dengan senjata terhunus dan wajah serius sedang saling berhadapan dengan ratusan lelaki berbaju hitam.

“Omitohud!” seru It-ci Taysu dengan suara dalam, “ada urusan apa kalian datang ke biara kami?”
Seorang kakek berusia enam puluh tahunan tertawa seram, sahutnya, “Hehehe, Lohu mendapat perintah dari Kaucu untuk membantu kalian kawanan keledai gundul secepatnya pulang ke nirwana!”

Sambil berkata, dia mengayunkan tangan kanannya ke atas.
“Criiing, criiing, criiing…pedang segera dilolos dari sarungnya, suasana tegang penuh hawa membunuh pun seketika menyelimuti arena.

Para padri Siau-lim serentak memuji keagungan Buddha, mereka pun sudah siap melancarkan serangan.
Mendadak terdengar Cau-ji tertawa terbahak-bahak.
Suara tawanya begitu keras dan nyaring, kontan kawanan iblis itu dibuat terkesiap.
“Mana Su Kiau-kiau?” hardiknya nyaring, “apakah dia belum datang?”
“Kurang-ajar,” umpat kakek itu gusar, “besar amat nyalimu, berani menyebut nama Kaucu kami seenak hati.”
“Hahaha, Su Kiau-kiau lonte busuk, kalau memang ia tak berani datang kemari, biar Toaya yang menghabisi dulu kalian anak setan cucu kura-kura..
a
Habis berkata dia langsung melangkah maju dengan tindakan lebar.
Takabur amat ucapannya, jumawa amat penampilannya, ternyata dia berani memaki ketua Jitseng-kau dengan kata sekasar itu.

Kontan suara geram dan teriakan gusar bergema dari empat penjuru, tampak empat lelaki berwajah bengis dengan senjata gada bergigi serigala langsung merangsek maju, gerak-geriknya buas dan menyeramkan, seakan setan iblis yang datang dari neraka saja.

“Kongcu, hati-hati, terutama dengan senjata gada pengait sukmanya, mereka adalah Im-sansu-kui (empat setan dari lm-san)!” seru Leng Bang memperingatkan.
“Hahaha, bagus, bagus sekali! Kalau begitu biar Toaya mengubah kalian jadi setan betulan!”
Selesai berkata dia segera menyelinap maju dan mengayunkan sepasang tangannya berulang kali.
“Blam
“Ah…
Hancuran daging beterbangan ke angkasa, percikan darah segar menganak sungai.
Betul-betul sebuah pukulan maut yang sangat mematikan.

Seketika itu juga semua orang menahan napas karena terkena tekanan udara yang sangat panas.
Hawa napsu membunuh benar-benar sudah berkobar dalam hati Cau-ji, dia lolos pedang pembunuh naga, “Criiing!” Begitu pedang itu terhunus, cahaya tajam pun memancar ke empat
penjuru.

Sambil mengangkat tinggi pedangnya, kembali pemuda itu berseru, “Para Suhu Siau-lim yang tertimpa musibah, roh kalian tak akan buyar di alam baka, hari ini saksikan bagaimana cara Wanpwe membalaskan dendam sakit hati kalian. Lihat pedang!”

Terlihat sekilas cahaya terang melesat ke tengah gerombolan orang-orang Jit-seng-kau, jeritan ngeri yang memilukan pun bergema.
Cahaya tajam memancar sampai beberapa kaki jauhnya dan lambat-laun membentuk sebuah jaring pedang yang bergeser mengikuti gerakan tubuh Cau-ji, di mana pemuda itu bergeser, di sanalah terjadi pembantaian besar-besaran.

Kawanan jago Jit-seng-kau serentak mengayun senjata masing-masing melakukan perlawanan, serangan maut hampir semuanya ditujukan ke tubuh Cau-ji.
Sayang senjata yang mereka hadapi adalah pedang pembunuh naga yang amat tajam dan luar biasa, apalagi Cau-ji telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mematikan serangan itu.
Terdengar jeritan ngeri yang memilukan bergema silih berganti.

Tampak hancuran daging berserakan di mana-mana, darah segar pun menggenangi permukaan tanah, keadaan waktu itu benar-benar sangat mengerikan.
Apalagi mendekati senja, suasana di seputar bukit terasa lebih menyeramkan.

Pertarungan semacam ini boleh dibilang bukan pertarungan antara manusia melawan manusia, lebih cocok kalau dibilang pertarungan antara petugas pencabut nyawa dari neraka dengan manusia, karena setiap kali Cau-ji mengayunkan pedangnya, paling tidak ada lima orang musuh
yang mati secara mengenaskan.

Sedangkan tangan kirinya setiap kali diayunkan, pasti ada tiga orang lawan bersimbah darah.
Pertarungan kali ini benar-benar sebuah pertarungan yang tidak seimbang.
Kawanan jago Jit-seng-kau yang sudah banyak melakukan kejahatan ini benar-benar mendapat pembalasan yang setimbal, lapangan di depan biara suci Siau-lim pun kini berubah jadi tempat pembantaian yang paling mengerikan.

Menyaksikan semua itu, kawanan padri Siau-lim hanya bisa memejamkan mata sambil membaca doa.
Bahkan Leng Bang yang sepanjang hidupnya malang melintang di dunia persilatan, bahkan entah sudah berapa banyak pertarungan yang dialami, belum pernah menyaksikan adegan mengerikan seperti saat ini.

Dengan wajah serius dia mengawasi ilmu silat Cau-ji yang begitu mengerikan.
Setelah melalui sebuah pembantaian yang sadis, tak sampai satu jam kemudian ratusan orang lelaki berbaju hitam itu telah hancur dan punah, tumpukan mayat pun membukit di tengah lapangan.

Cau-ji memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil menghembuskan napas lega dia sarungkan kembali pedangnnya, kepada It-ci Taysu ujarnya perlahan, “Taysu, sekujur badan Wanpwe sudah basah oleh darah, tak baik bagiku untuk masuk lagi ke dalam biara, selamat tinggal!”

Perkataan itu seketika menyadarkan kembali It-ci Taysu dari lamunannya, cepat ujarnya, “Siausicu, kau telah membantu biara kami lolos dari pembantaian, mana boleh kau pergi begitu
saja?”
“Lagi pula sejak semalam biara kami sudah dinodai ceceran darah, tempat ini sudah tidak pantang lagi menerima orang yang berdarah, bila Siausicu berlalu begitu saja, bagaimana cara Lolap memberikan pertanggung-jawaban terhadap Ciangbunjin?”

Pada saat itulah terdengar seseorang berseru memuji keagungan sang Buddha. Dengan girang It-ci Taysu segera berseru, “Siausicu, Ciangbunjin kami telah keluar!”
Benar saja, diiringi empat Hwesio cilik, Goan-tong Taysu telah muncul dari balik pintu gerbang.
Setelah semua orang memberi hormat, terdengar Goan-tong Taysu berkata dengan penuh rasa terima kasih, “Omitohud, kehadiran Sicu berdua bukan saja telah mengantar obat mujarab, bahkan membantu juga biara kami terhindar dari pembantaian, budi kebaikan ini sungguh luar biasa, terimalah salam terima kasihku mewakili seluruh anggota biara.”
Habis berkata, dia menjura.

Tergopoh-gopoh Cau-ji balas memberi hormat, serunya, “Ciangbunjin kelewat sungkan, Jitseng- kau sudah terlalu sering melakukan kajahatan, perbuatan mereka dikutuk setiap orang, sudah menjadi kewajibanku membantainya.

“Ciangbunjin, yang Wanpwe kuatirkan justru bila Jit-seng-kau sengaja membagi pasukannya jadi dua rombongan, satu rombongan menyerang kemari sedang pasukan yang lain memanfaatkan kesempatan ini menyergap gedung Liong-ing-hong. Oleh sebab itu Wanpwe ingin mohon diri terlebih dulu, biar lain kali berkunjung lagi!”
“Kalau memang begitu, Pinceng akan mengantar Sicu berdua!” ucap Goan-tong Taysu.
“Tidak berani.”
Di tengah bunyi genta yang bertalu-talu, Cau-ji berdua menuruni bukit Siong-san dan langsung menuju ke kota Lok-yang dengan kecepatan tinggi.
Menjelang malam, kedua orang itu sudah tiba di kota Lok-yang, tampak rakyat di kota itu menunjukkan wajah panik bercampur cemas, seolah suatu bencana besar telah terjadi.

Sekilas firasat tak baik segera melintas dalam hati kedua orang itu.
“Minggir!” bentak Cau-ji dengan suara keras.
Suara bentakan yang menggelegar ini kontan membuat penduduk kota ketakutan, buru-buru mereka menyingkir ke samping memberi jalan lewat untuk Cau-ji.

Belum tiba di depan gedung Liong-ing-hong, Cau-ji berdua sudah melihat pintu gerbang gedung itu telah dikepung dua puluhan manusia berbaju hitam, sementara darah berceceran membasahi lantai, sudah ada belasan orang penjaga yang tergeletak tak bergerak.

Betapa gusarnya Cau-ji menyaksikan jago-jago Jit-seng-kau benar-benar telah melakukan penyerangan di Liong-ing-hong, bahkan petugas negara pun dibantai tanpa ampun.

Sambil membentak nyaring dia melompat turun dari punggung kudanya dan langsung menerkam ke depan.
Leng Bang pun sangat menguatirkan keselamatan junjungannya, dengan gerakan cepat dia menerjang pula ke depan.

Begitu mendengar ada suara derap kaki kuda yang bergerak mendekat, kawanan manusia berbaju hitam segera melakukan pengepungan dengan ketat, maka begitu Cau-ji berdua menerjang ke depan, serentak lemparan Am-gi dan pukulan dahsyat dilontarkan berbarengan.

Cau-ji mengayunkan telapak tangannya berulang kali, begitu berhasil merontokkan sambitan senjata rahasia dan memunahkan angin pukulan, segera hardiknya, “Siapa berani menghalangi aku, mampus!”

Sepasang tangannya melontarkan pukulan berulang kali.
“Aduuuh.. di tengah jeritan ngeri, ada tiga lelaki berbaju hitam yang mencelat dengan tubuh hancur.
“Manusia penghancur mayat!” entah siapa yang menjerit kaget lebih dulu, serentak kawanan manusia berbaju hitam itu mundur sejauh beberapa langkah.

Sambil mencabut pedang pembunuh naganya, kembali Cau-ji membentak, “Cianpwe, kuserahkan tempat ini kepadamu!”
Selesai berkata, pedangnya dibabatkan kian kemari membuka sebuah jalan tembus dan langsung menuju ke arah pintu gerbang.

Dalam waktu singkat lagi-lagi ada empat lelaki berbaju hitam yang dibabat hingga hancur berkeping.
Ketika tiba di halaman tengah, ia saksikan ada enam lelaki berbaju hitam bersenjatakan pentungan langsung melancarkan serangan ke tubuhnya.
“Bangsat, cari mampus!” teriak Cau-ji gusar.
Dia sambut datangnya serangan itu dengan babatan pedang.
Tak sampai tiga gebrakan, keenam orang itu kembali dibabat mampus.
Kegaduhan segera melanda seluruh halaman. Menggunakan kesempatan itu Cau-ji memeriksa sekejap keadaan sekeliling sana.

Tampak dua bersaudara Suto telah terkepung oleh delapan belas lelaki bersenjatakan pedang, walaupun tidak menunjukkan tanda bakal kalah, namun peluh telah membasahi tubuh mereka, jelas kedua gadis ini gagal untuk meloloskan diri dari kepungan.

Sementara Siang Ci-liong dan Siang Ci-ing dikepung juga oleh delapan belas jago berpedang, tubuh mereka pun telah basah kuyup oleh keringat, tampak sekali mereka sudah sangat kepayahan.

Sebaliknya tiga bersaudara Cu dengan mengembangkan barisan Sam-cay-tin bertarung melawan delapan belas jago berpedang lainnya, posisi mereka tampak berada di atas angin.
Chin Tong dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya melayani serbuan lawan yang bertubi-tubi, wajahnya sama sekali tak nampak jeri.

Selain itu terdapat pula belasan muda-mudi bersenjatakan pedang mati-matian mempertahankan pintu masuk menuju ke ruang utama.
Di samping itu terdapat pula dua puluhan kakek berbaju hitam yang berdiri di sisi arena dengan senyuman dingin dikulum, tapi sejak kemunculan Cau-ji, wajah mereka segera menunjukkan perasaan kaget bercampur panik.

Tidak menunggu pihak musuh maju menyerang, Cau-ji sudah menerjang maju lebih dulu ke arah Siang Ci-Liong bersaudara yang terkurung, belum lagi tubuhnya sampai, pedang pembunuh naganya bagaikan jaring pedang telah membacok tiba lebih dahulu.

Dua puluh lelaki yang menerjang lebih duluan tak sempat menghindar, seketika tubuh mereka terbacok.
Dua puluhan kakek berbaju hitam lainnya segera mengerang gusar, serentak mereka menyerbu maju.
Menggunakan kesempatan yang amat singkat inilah Cau-ji kembali berhasil melampaui tiga lelaki. Kehadiran Cau-ji seketika membuat semangat Siang Ci-liong kakak-beradik makin berkobar, begitu tekanan berkurang, mereka pun mundur ke arah pintu ruangan.

Cau-ji betul-betul memamerkan kehebatannya, pukulan dan ayunan pedang bergerak silih berganti, dia sambut datangnya serbuan dari dua-tiga puluhan jago Jit-seng-kau dengan gagah
perkasa.

Sesungguhnya dua-tiga puluhan jago itu merupakan jago-jago pilihan berilmu tinggi, tapi sayang musuh mereka adalah Cau-ji, ditambah lagi mereka sudah dibuat keder terlebih dahulu akan kehebatan ilmu silat “Manusia penghancur mayat”, jadi sebelum bertarung kekuatan mereka sudah jauh terpengaruh.

Cau-ji tidak berpikir panjang lagi, setiap kali melancarkan serangan, dia selalu menggempur dengan sepenuh tenaga, hatinya tidak menjadi lunak hanya dikarenakan suara jeritan ngeri dari
korbannya.

Sepeminuman teh kemudian situasi di tengah arena telah terjadi perubahan besar, pihak Jitseng-kau telah berada di posisi bawah angin.

Kembali angin pukulan menggelegar, hawa pedang menyayat badan.
Hancuran daging dan potongan badan berhamburan ke mana-mana, darah segar bercucuran membasahi seluruh tanah.

Dari dua-tiga puluhan kakek berbaju hitam itu, kini tersisa lima orang saja yang masih hidup.
Kesombongan dan kejumawaan mereka saat ini sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya perasaan ngeri, takut, dan kaget mencekam hati mereka, kini orang-orang itu sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan.

Cau-ji seakan sudah lupa diri, serangan demi serangan dilancarkan makin gencar dan menggila, terhadap sambitan Am-gi maupun pukulan yang tertuju ke arahnya dia seakan tidak merasa dan tidak melihatnya, karena dia berpendapat, bagaimanapun juga keselamatan tubuhnya sudah terlindung oleh hawa murni Im-yang-khi-kang.

Kawanan berbaju hitam itu semakin ketakutan, apalagi menyaksikan anak muda itu bukan saja melancarkan serangan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, bahkan tubuhnya seolah kebal terhadap sambitan senjata rahasia maupun angin pukulan.

Entah siapa yang berteriak duluan, “Kabur!” tak lama kemudian keempat-lima puluhan jago Jitseng-kau yang tersisa sudah melarikan diri dari situ.
Cau-ji membentak gusar, sambil menghadang di depan pintu gerbang, serangan pedang dan pukulannya dilontarkan berulang kali.

Waktu itu yang berada dalam benak kawanan berbaju hitam itu hanya melarikan diri dari tempat pembantaian, begitu ada kesempatan menerobos, segera mereka gunakan dengan sebaik-baiknya.
Tak selang beberapa saat kemudian, kecuali dua puluhan jago yang termasuk golongan agak lemah, sisanya sudah habis melarikan diri dari situ.
Bahkan delapan-sembilan orang yang sedang bertarung melawan Leng Bang di depan pintu pun ikut kabur terbirit-birit.

Seakan baru terbebas dari beban berat, Siang Ci-liong berdua segera berjalan menghampiri Cau-ji.
Dua bersaudara Suto serta Siang Ci-ing seakan baru bertemu dengan kekasih yang sudah berpisah lama, serentak berlari dan menubruk ke dalam pelukan Cau-ji sambil berseru, “Adik Cau!”

Pada saat itulah mendadak dari balik semak di sisi kanan tembok terdengar seseorang menjerit
kaget, “Ternyata dia!”
Satu ingatan segera melintas dalam benak Cau-ji, tanpa banyak pikir lagi pedang pembunuh naga yang berada dalam genggaman tangan kanannya langsung dilontarkan ke depan.
Sementara ketiga gadis itu tergopoh-gopoh menghentikan langkahnya setelah menyaksikan kejadian ini.
Sesosok bayangan orang segera menyelinap keluar dari balik kerumunan semak seraya berseru, “Kongcu, aku Siau-hong!”
Pedang pembunuh naga yang sudah dilontarkan ke arah semak itu seakan memiliki kekuatan yang terkendali, tiba-tiba saja sebelum mengenai tubuh orang itu, gerakan pedang telah berputar arah dan meluncur balik ke tangan Cau-ji.

Dengan satu gerakan, Cau-ji menangkap kembali senjatanya kemudian disarungkan.
Tampak Siau-hong yang berpakaian serba hitam segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Cau-ji sambil teriaknya kegirangan, “Budak menjumpai Kongcu!”

Cau-ji segera maju membangunkan dayang itu, tegurnya sambil tertawa, “Siau-hong, mengapa secara tiba-tiba kau datang kemari? Dari mana kau bisa mengenali aku?”

Sambil melepaskan topeng yang dikenakan dan tampil dengan wajah aslinya, sahut Siau-hong kegirangan, “Kongcu, Im-congkoan yang memberitahukan nama besarmu kepada budak, ia berpesan agar budak mengikuti mereka datang kemari mencarimu!”

Mendengar itu, Cau-ji jadi amat terperanjat, buru-buru tanyanya, “Siau-hong, apakah di Jitseng-kau sudah terjadi sesuatu?”

Sebagaimana diketahui, Im Jit-koh sama sekali tidak mengetahui identitas Cau-ji dan Bwe Si-jin yang sebenarnya, bila Im Jit-koh tahu akan nama Cau-ji, berarti Bwe Si-jin yang memberitahukan kepadanya, hal ini menunjukkan pula kalau ia sedang menghadapi ancaman bahaya.
Ternyata dugaannya tak salah, terdengar Siau-hong menyahut,
“Kongcu, Bwe-cianpwe telah ditangkap!”

Berubah paras muka Cau-ji, sambil mencengkeram bahu Siau-hong, serunya tanpa sadar, “Sungguh?”
“Be … benar ….” Siau-hong mengangguk sambil menahan rasa sakit di bahunya.
“Adik Cau, tak usah emosi,” buru-buru Suto Si menghibur.
Teguran itu segera menyadarkan Cau-ji, melihat Siau-hong sudah dibuat ketakutan hingga bermandikan peluh dingin, buru-buru dia kendorkan tangannya dan berkata dengan nada minta maaf, “Siau-hong, maaf! Mari kita berbicara di dalam.”

Author: 

Related Posts