Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 19

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 19by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 19My HEROINE [by Arczre] – Part 19 BAB XIV: SECOND IMPACT II #PoV Hana# Sementara tinggal di rumahnya Yuda, Not bad. Rumahnya gedhe. Iyalah digabung sama padepokan silat gimana nggak gedhe? Tapi aku bisa melihat perubahan kepada diri Han Jeong. Dia nempel terus ke Yuda seperti perangko. Yah, paling tidak hanya sesaat setelah Yuda dipanggil […]
First gym sesh of 2015. My one and only resolution for this year is to be toned and lean by December.

First gym sesh of 2015. My one and only resolution for this year is to be toned and lean by December.

My weekend was fucking awesome! ?? Bowling on Friday night with Ryan, Sara, Azri. Gym sesh at 2am on Saturday with Sara plus sleepover @ her place. Clubbing on Saturday night with Debbie, Farna and my new friends. Dinner on Sunday night with Adam. ?????? I finally feel alive and happy, to more happy days ahead. ??

My weekend was fucking awesome! ?? Bowling on Friday night with Ryan, Sara, Azri. Gym sesh at 2am on Saturday with Sara plus sleepover @ her place. Clubbing on Saturday night with Debbie, Farna and my new friends. Dinner on Sunday night with Adam. ?????? I finally feel alive and happy, to more happy days ahead. ??

My HEROINE [by Arczre] – Part 19

BAB XIV: SECOND IMPACT II

#PoV Hana#

Sementara tinggal di rumahnya Yuda, Not bad. Rumahnya gedhe. Iyalah digabung sama padepokan silat gimana nggak gedhe? Tapi aku bisa melihat perubahan kepada diri Han Jeong. Dia nempel terus ke Yuda seperti perangko. Yah, paling tidak hanya sesaat setelah Yuda dipanggil ayahnya untuk bicara empat mata. Entah apa yang mereka bicarakan.

“Ini The Box,” ujar Profesor Andy sambil menunjukkan kepadaku sebuah kotak kecil.

“Apa ini prof?” tanyaku.

“Ini adalah bagian terpenting dari Hypersuit. Aku menginjeksikan The Box ke dalam belt Hypersuit. Seluruh Nanobot mendapatkan energi dari kotak kecil ini. Anggap saja ini batteray berkekuatan tinggi. Bisa dibilang kekuatannya sama seperti lima kali bom atom yang jatuh di Hiroshima,” jawab Profesor.

“Bullshit! Yang bener prof?! Benda sekecil ini?” tanyaku tak percaya.

“Aku dulu punya dua orang sahabat, Arie dan Luke. Kami membuat The Box. Akulah yang punya inisiatif dipasangkan ke Hypersuit sebelum aku dipenjara karena kasus korupsi. Kemudian teknologi Nanobotku dicuri oleh Luke, kamu mungkin sudah membaca arsip lama tentang Lucifer anggota kelompok Genesis.”

“Iya, aku pernah baca.”

“Luke alias Lucifer. Dia kemudian dikalahkan oleh papamu dalam sebuah pertarungan maut. Yah, berkat pertarungan itu aku menyempurnakan Hypersuit sampai seperti sekarang ini.”

Aku manggut-manggut.

Malam telah datang dan Yuda masih berada di ruangan khusus bersama ayahnya. Mereka sedang apa sih? Apa Yuda sedang diajari jurus baru ama ayahnya? Ah entahlah. Dasar para pendekar. Aku suntuk sekali membantu profesor. Dia masih memeriksa para nanobotnya. Kerusakan baju tempurnya hingga menyentuh angka 90 persen, itu sangat parah. Papa dulu pernah merasakannya berada di dalam armor Hypersuit dan mendapatkan kerusakan sampai tinggal 5 persen saja ketahanannya.

Aku stress juga di depan komputer. Aku pun keluar rumah dan kuliah Han Jeong sedang memukul-mukul balok kayu. Dia tampak sibuk berlatih. Kulihat Ryu juga memukul-mukulkan pedangnya ke udara. Suaranya sampai terdengar dari sini.

Aku melihat tablet yang aku bawa. Mengakses internet. Itulah satu-satunya hiburanku sekarang ini. Kenapa? Well, tahu sendirilah aku itu orangnya kurus, mudah capek, sejak kecil emang seperti ini. Aku juga kena asma kalau tinggal di cuaca yang terlalu dingin. Yah, serba salah deh pokoknya.

Aku tertarik membuka youtube, ternyata kemunculan Black Knight menimbulkan berbagai reaksi selama ini. Ada pro dan kontra. Yang pro katanya memang dunia ini butuh penegak keadilan. Maka mereka pun bersemangat untuk menegakkan keadilan, sekalipun tidak memakai topeng seperti Black Knight. Ada yang berpakaian layaknya superhero, pakai topeng ada jubahnya juga. Macem-macemlah, dan ternyata tidak hanya itu. Yang punya kekuatan super beneran pun ada. Ada juga yang jago berkelahi trus lagi-lagi pakai topeng.

Tapi dari keseluruhan superhero itu tak ada yang mampu bisa seperti Han Jeong.

Ternyata sudah cukup lama juga mereka mengeluk-elukkan Black Knight. Kalau dilihat sih sejak aku masih kecil, berarti ketika papa masih jadi Black Knight waktu itu. Ah, ada ternyata superhero lain. Di youtube ada yang merekam kemunculan mereka. Ada yang bisa terbang. Wow. Aku heran kenapa Black Knight nggak bisa terbang yah? Profesor Andy menjelaskan, dia bukan seorang ilmuwan yang mampu membuat objek terbang. Karena itulah fitur Black Knight tak dilengkapi dengan sesuatu yang memungkinkannya bisa terbang. Yah, nggak setiap manusia itu perfect seperti Tonny Stark. This is real world guys!

“Hana!?” sapa mama. Wah, ada mama. Beliau langsung duduk di dekatku. “Ngapain di sini?”

“Ah, nggak apa-apa mah, cuma kepengen nyante aja. Stress di dalem,” ujarku.

“Oh, kaya’nya anak mama ini capek sepertinya, sini mama pijit!” mama langsung memijat pundakku. Aahh….enak banget.

“Ahhh…iya mah, enak itu.”

Mama memijiti pundakku yang emang terasa capek. Enak sekali pijetannya. Pantesan nih papa suka sekali dipijit mama kalau lagi capek.

“Kalau lihat hari ini itu jadi keinget masa lalu,” kata mama.

“Emang seperti apa ma?”

“Dulu kami juga berkumpul seperti ini. Mama, papamu, Tante Moon, Om Hiro, bahkan Nenek Putri juga waktu masih ada berkumpul. Kami semua berjuang untuk melawan komplotan teroris Genesis. Persis seperti ini.”

“Oh ya? Keren ya?”

“Bahkan kakekmu juga ikut lho berperan di sini.”

“Kakek Faiz?”

“Iya, sama Nenek Iskha juga, juga nenek Vira. Mereka menyemangati papamu pas bertarung ama bos terorisnya.”

“Waah, keren dong ma. Ngumpul semua gitu? Oh iya, Anisa sama Zafran kan di tempatnya kakek sekarang? Aku belum tanya kabar mereka nih.”

“Halah biarin, nggak apa-apa. Mereka bakal baik-baik saja. Kita justru di sini biar nggak dilacak koq. Apalagi padepokan ini tempatnya agak tersembunyi gitu. Agar orang-orang jahat itu bakal sulit menemukan kita.”

“Setelah hari ini, apa yang akan terjadi esok ya ma?”

Mama diam sejenak merenung. Ia juga mungkin tak punya jawaban untuk itu. “Semoga aja besok lebih baik daripada hari ini.”

Aku tahu kegelisahan mama, baru kali ini ia kembali ke dalam dunia yang penuh aksi setelah bertahun-tahun lamanya mama tinggalkan dunia itu demi keluarga.

Ryu menghampiriku.

“Hana-chan, aku ingin pergi sebentar,” kata Ryu.

“Mau kemana Ryu-kun?” tanyaku.

“Mengambiru pedangku,” jawabnya.

“Bukannya kamu sudah bawa pedang?” tanyaku.

“Bukan yang ini. Aku punya katana di rumah. Aku pergi,” jawabnya.

“Hati-hati! Itterashai!”

“Itekimasu!”

Ryu kemudian berlari-lari kecil meninggalkan padepokan ini. Katana? Aku tak pernah tahu Ryu punya katana selama ini. Yang aku tahu ya pedang kayunya saja.

Han Jeong melihat Ryu pergi. Ia pun menghampiriku setelah berlatih dan langsung duduk di bale-bale bersama kami.

“Eh, udah selesai latihannya,” tanyaku.

“Yuda belum keluar juga?” tanyanya.

“Cieeehhh…udah kangen aja ya? Orang kita di rumahnya aja sampe kangen.”

“Hanaaa, malah godain orang,” Han Jeong cemberut.

“Tante ngerti perasaan Han Jeong, Hana ini godain terus. Awas lho ya, nanti kalau sampai kamu jatuh cinta ama cowok, kamu bakalan seperti Han Jeong rasanya kalau nggak lihat dia khawatir terus. Mama aja dulu merasa kehilangan ketika harus pisah ama papa bertahun-tahun lamanya,” kata mama.

“Hah? Pisah bertahun-tahun ma?”

“Ceritanya panjang. Tapi yang jelas mama tak pernah menyesal mencintai papamu. Dia orang yang paling baik yang pernah mama kenal. Mama awalnya saja nggak tahu kalau papa itu masuk keluarga Hendrajaya. Yah…akhirnya kita bersama lagi setelah bertahun-tahun lamanya nggak ketemu. Papamu itu temen mama sejak kecil. Yah anggap aja sahabatan sejak lama, kaya’ Han Jeong ama Yuda tuh.”

“Iya nih, Hana. Ntar aku bakalan bales kalau kamu udah punya cowok, godain aku ama Yuda terus,” protes Han Jeong.

Aku ngikik. “Ya deh, ya deh. Eh, aku punya sesuatu nih Han Jeong. Lihat!”

Aku memperlihatkan video rekamanku di mana aku merekam saat Han Jeong dicium oleh Yuda. Han Jeong wajahnya memerah.

“Apa ini? Ayo hapus! Hapus! Dari mana kamu ngambilnya?” Han Jeong protes berusaha merebut tabletku.

“Nggak boleh, nggak bisa ini kenangan terindah Han Jeong. Hahahaahahh,” aku ketawa sendiri. Mama ikut tertawa.

“Waah…tante juga tahu dong berarti?” tanya Han Jeong.

“Iya,” jawab mama.

“Arrrgghh…sini, hapus!” Han Jeong berusaha merebut tabletku.

Kami bercanda malam itu sampai aku menyerah. Han Jeong malu sekali. Tapi sebenarnya hatinya berbunga-bunga. Yah, untuk sejenak, kita lupa bahwa bahaya sedang mengancam kita.

****~o~****

Pagi itu semuanya terbangun dari mimpi. Yuda masih saja belum keluar dari ruangannya. Aku tak melihat dia pagi ini. Di mana Ryu? Aku tak melihatnya. Ah, aku lupa. Dia kan orangnya sering nyasar? Harusnya dia aku anter saja kemarin. Aku terbangun di atas sofa, sepertinya aku tertidur di sini kemarin. Dengan langkah gontai aku pergi ke joglo. Tampak orang-orang sedang fokus kepada layar monitor.

“Ada apa?” celetukku.

“Kau bisa lihat sendiri,” jawab papa.

Aku melihat berita.

“Saudara, di Samudra Hindia ada sebuah peristiwa yang mengejutkan beberapa kapal pencari ikan dihantam sesuatu setelah terakhir kali terjadi kontak. Sekarang ini menurut TNI AL ada sebuah objek datang mendekat dengan kecepatan 40 knot. Tidak diketahui objek apa itu,” kata presenter tv.

Tidak mungkin, benarkah ini? Sudah dimulaikah? Kami belum siap! Aku menjerit dalam hati. Objek itu seperti apa tak ada yang menyiarkannya di tv.

“Pakai satelit! Kita lihat pakai satelit! M-Tech punya akses ke satelit XT-099 Palapa!” kata papa.

Papa segera mengoperasikan komputer, jarinya kalau ngetik cepet banget. Aku tak pernah bisa seperti itu kalau ngetik. Kayaknya keyboard ama jemari tangan beliau menyatu. Keren banget. Papa pasti waktu mudanya juga seorang hacker. Hihihi, anak sama bapak sama aja. Tak berapa lama kemudian di layar monitor ada sebuah video dari satelit. Wogh, aku baru tahu kalau M-Tech ada akses ke satelit. Dan sekarang aku melihat di layar monitor mengarahkan kameranya ke Samudra Hindia. Pasti ada delay dong, yah kira-kira beberapa detik.

“Apa itu?” gumam Om Hiro.

Dari laut ada sesuatu yang bergerak. Besar, besar sekali. Dan kemudian melompat ke atas permukaan. Semuanya kaget. Monster? Monster! Monster dengan banyak tentakel, seperti gurita!?

“What the hell was that?” gumamku.

“Dilihat dari gerakannya ia akan melewati Selat Sunda. Apakah tujuannya Jakarta? Tunggu dulu, bukannya di sana akan banyak kapal-kapal yang menyebrang Jawa dan Sumatera?” kata papa. “Profesor! Kapan Hypersuit siap?”

“Sekarang sedang dicharge oleh The Box. Kita harus menunggu sampai energinya penuh,” ujar profesor.

“Kita tak punya waktu lagi,” kata Om Hiro. “Apa yang bisa kita lakukan?”

“Aku telpon Ryu. Dia bisa ke pelabuhan sekarang,” kataku.

AKu segera menelpon Ryu. Dia langsung mengangkat.

“Moshi moshi?” sapanya.

“Ryu, ada emergency, segera ke pelabuhan ada yang akan menyerang di sana. Monster, monster!”

“Monsteru? Jangan bercanda. Mana ada?”

“AKU SERIUUUSS!” jeritku.

“Hai..hai…iya. Oke, aku segera ke sana!” kata Ryu. Dia segera menutup teleponnya.

“Oke, aku sudah menghubungi Ryu, ia segera ke pelabuhan,” kataku.

“Kenapa tv-nya?” tanya papa.

Aku melihat tvnya ada sebuah simbol. Sebuah huruf A besar. Eh?? Siaran tv dihack? Masa’? Sinting, apa yang terjadi sebenarnya?

“Selamat pagi Jakarta!” terdengar sebuah suara di tv. Dan gambar pun berubah.

Di tv aku melihatnya. Seseorang memakai penutup kepala, seperti helm. Entah kenapa dia menyembunyikan wajahnya. Rambutnya panjang dan dia berdiri di sebuah ruangan. Orang itu pun mulai bicara. Di layar tv aku melihat sebuah klip video kecil terpampang di sebelahnya. Itu?? Seperti sesuatu dari dalam laut yang bergerak membuat permukaan laut membentuk gelombang-gelombang. Besar sekali. Apa yang ada di dalamnya?

“Warga Jakarta, perkenalkan. Namaku A, senang bertemu dengan kalian. Hari ini aku ingin memberitahukan satu hal. Masa tidur kalian sudah berakhir, mimpi kalian sudah berakhir. Aku ingin mempersembahkan kepada kalian hasil dari maha karyaku kode namanya CUMI-08. Ah, kenapa dinamakan cumi? Ya karena memang wujudnya cumi, padahal sebenarnya lebih mirip gurita,” kata orang yang memakai helm itu.

Makhluk yang ada di dalam air laut itu tiba-tiba menjulurkan tentakelnya. Ada sebuah kapal kontainer yang menghadang jalannya lalu dari ujung tentakel itu mengeluarkan sebuah cahaya, lurus, sinar yang lurus, seperti laser. ZING! Kapal kontainer itu terbelah menjadi dua. Apaaaa?? APa itu!?

“Oh, sudah dimulai ternyata. Mari kita bermain, anggap ini seperti bermain video game. Aku memberikan waktu kepada Black Knight untuk keluar sebelum si Cumi ini akan meratakan kota Jakarta. Hahahahaha.”

Dan di layar tv aku lihat beberapa kapal dari pasukan TNI AL sudah menghadang monster ini dan mengirimkan tembakan dan dentuman meriam untuk menghajar monster Cumi-08. Ledakan-ledakan pun bersahutan, tapi….Tak ada satupun yang bisa menghentikan monster ini. Tiba-tiba beberapa puluh garis sinar laser mengarah ke kapal-kapal TNI itu. Lalu ZING! ZING! ZING! ZLASSSHH! DUAARRRRR! Seluruh kapal TNI AL terbelah dan meledak. Hal ini mengejutkan semua orang.

“Han Jeong!” teriakku.

“Profesor! Cepat prof!” seru Han Jeong.

“Sebentar lagi, sebentar lagi selesai!” ujar profesor Andy yang sedang mengisi batteray belt Hypersuit. Dari indikatornya aku melihat sudah mencapai angka 90%. Ini bahaya. Bahaya.

“Ryu-kun! Kamu sampai di mana?!” tanyaku kepada Ryu dari alat komunikasi.

“Sebentaru ragi sampai ke perabuhan,” ujarnya.

WIIIINGGGGG! terdengar sebuah suara.

“Eh, apa itu?” tanya Ryu.

“Ada objek terbang dengan cepat ke arahmu,” kataku.

“Teman atau kawan?” tanya Ryu.

“Tidak tahu, tapi sangat cepat,” ujarku.

Objek itu di radar melintasi Ryu.

“Bokuwa mitte! Korewa….” Ryu tak melanjutkan. Aku melihat kamera cctv tempat di mana Ryu berada. Oh, sebuah kamera cctv sebuah toko. Lumayan lah daripada nggak ada. Di sana aku lihat Ryu dengan armornya berdiri. Ia kebingungan ketika di hadadapannya ada seseorang berpakaian putih, bukan pakaian lebih tepatnya juga armor dan dengan sayap di punggungnya melayang tak menyentuh tanah.

“Tenang saja aku adalah teman,” kata orang berbaju putih itu. “Namaku Silver Crow”

“Teman? Kamu sama-sama pakai armor? Wow!” kata Ryu.

“Kamu siapa?” tanya Silver Crow.

“Namaku Ryu,” jawab Ryu.

“Baiklah Ryu, ada sesuatu yang harus kita selesaikan,” kata Silver Crow.

“Kamu benar, ayo!”

(bersambung….)

Author: 

Related Posts